Showing posts with label personal opinion. Show all posts
Showing posts with label personal opinion. Show all posts
on Thursday, January 28, 2010
Sekitar seminggu lalu saya menonton berita di stasiun televisi swasta yang menayangkan tentang seorang anak laki-laki (namun maaf, saya lupa berapa umurnya) yang tengah dirawat di rumah sakit karena terjangkit virus HIV/AIDS. Dan Sabtu (24/01) ini, di program berita yang sama, saya mendapati bahwa anak laki-laki ini meninggal setelah cukup lama bergulat dengan sakitnya. Dan dari program serupa di stasiun televisi lain, saya mendapati bahwa anak ini dimakamkan di sebelah makam kedua orangtuanya yang terlebih dahulu meninggal karena terjangkit virus yang sama. Ayahnya meninggal terlebih dahulu pada tahun 2006, dan ibunya meninggal akhir 2009 lalu. Praktis, selama sisa hidupnya, anak laki-laki ini hanya tinggal bersama sanak keluarganya yang lain hingga akhir hayatnya.

Mendengar cerita tentang anak ini, sejujurnya sangat mengusik nurani saya. Tidak, saya tidak akan tega untuk menuding almarhum ayah dan/atau almarhumah ibunya melakukan tindakan yang membuat diri mereka terjangkit virus HIV dan menulari anak mereka yang bahkan tidak tahu apa-apa. Yang lebih mengetuk hati saya adalah menyaksikan kasus anak laki-laki ini, saya tiba-tiba teringat perkataan seorang guru mata pelajaran Biologi semasa kelas X (kelas 1 SMA), kira-kira 4 atau 5 tahun lalu. Saat itu kami memang tengah membahas beberapa jenis penyakit menular yang berbahaya, dan salah satunya adalah AIDS yang disebabkan oleh virus HIV. Bukannya bermaksud sombong, sebelumnya saya sudah sering membaca mengenai apa bedanya HIV dan AIDS, bagaimana cara virus HIV/AIDS menular, cara-cara mencegah penularan virus ini, serta mitos-mitos mengenai cara penularan virus HIV/AIDS yang salah kaprah. Nah... yang menjadi masalah adalah guru saya ini, entah apa sebabnya, memberi penjelasan pada kami semua mengenai cara penularan HIV/AIDS dan di mata saya, penjelasan tersebut sangat salah kaprah dan menyudutkan semua penderitanya. Yang paling tidak bisa saya terima dan tidak bisa saya lupakan sampai sekarang adalah ketika sampai pada poin penularan HIV/AIDS melalui transfusi darah. Guru saya memberikan gambaran mengenai poin ini, dengan kalimat: “Ya, kita nggak tahu kan, bisa aja mungkin ada penderita HIV/AIDS yang depresi trus berpikir ‘saya ingin orang lain bernasib seperti saya’, trus dia nyuntikin darahnya ke kantong-kantong darah, jadinya ada orang lain ketularan,”

Jujur saja saya marah sekali mendengar statement guru saya. Pertama, kata-katanya menunjukkan bahwa dia tidak menguasai materi atau hal-hal penting berkaitan dengan HIV/AIDS. Kedua, saya merasa statement yang dia keluarkan sebagai seorang guru kepada murid itu sangat membodohi. Ketiga, statement tersebut amat sangat menyudutkan penderita HIV/AIDS. Saya belum pernah bertemu dengan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) manapun, namun saya berani bertaruh apa saja, tidak akan ada satupun dari mereka yang mau menerima statement yang sama sekali tidak mengandung esensi rasa empati tersebut. Belum cukup, guru saya tersebut mengatakan untuk menghindari AIDS, ‘kita harus kembali ke moral’. Oh my, kenapa sih semua ODHA dipukul rata sebagai orang tidak bermoral? Sejak kapan patokan orang bermoral dan tidak bermoral diukur dari apakah dia ODHA atau bukan? Apa kalau orang bejat yang merampok, membunuh, dan menyusahkan orang lain tidak bisa disebut sebagai orang tidak bermoral? Dan apa esensi dari stigma-stigma negatif terhadap ODHA tersebut?

Saya tahu, banyak ODHA yang terjangkit virus ini karena perbuatan mereka sendiri. Tapi itu bukan alasan untuk kita yang masih diberi kesehatan oleh Sang Pemberi Kehidupan memberikan stigma atau nyukurin mereka kan? Maksud saya, hey, ayo kita sama-sama buka mata. Kita tidak berhak memberikan penilaian negatif atau mencemooh mereka hanya karena mereka adalah ODHA dan kita bukan. Apa tidak pernah terpikir bahwa dengan terpapar virus tersebut, mereka sudah mendapat hukuman dari Yang Maha Menghakimi? Buat apa kita menghukum mereka lagi, siapa kita dan kenapa kita berhak nyukurin mereka? Dan kalau, kalau seandainya SEMUA orang yang terjangkit HIV disebut sebagai ‘tidak bermoral’, lantas bagaimana nasib istri-istri yang terjangkit virus ini dari suami mereka? Bagaimana nasib bayi-bayi yang bahkan tidak memilih untuk ada, tertular virus ini dari ibu mereka? Apa istri-istri itu lantas dicap TIDAK BERMORAL, walaupun mereka selama ini menjadi istri yang setia pada suaminya serta menjadi sosok istri yang baik? Apa bayi-bayi itu lantas dituding AMORAL, walaupun mereka bahkan tidak tahu bagaimana virus tersebut bisa ngendon di tubuh mereka? Saya bukan aktivis dari LSM sosial manapun, saya hanya seorang mahasiswi yang selama ini menyaksikan sendiri bahwa masih banyak orang yang tidak mengerti namun merasa mengerti tentang HIV/AIDS dan ODHA lalu seenaknya mengeluarkan stigma-stigma negatif hanya karena mereka memandang isu ini dengan kacamata kuda dan sistem pukul rata (‘pokoknya orang yang kena HIV pasti tidak bermoral!’) tadi. Dan sedih memang, karena salah satu orang yang memakai ‘kacamata kuda’ tadi adalah seorang guru yang harusnya memberi input yang benar dan tepat sasaran pada muridnya. Menyedihkan.

(untuk anak laki-laki di berita, terima kasih karena kamu menginspirasi saya untuk menggali kembali tema ini di benak saya setelah sekian lama terpendam di salah satu sekat pikiran saya. Semoga kamu dan kedua orangtuamu mendapat tempat yang layak di sisi Sang Khalik. Amin)
on Thursday, January 21, 2010
Saya bukan penggemar film horor. Setelah menonton Jelangkung di televisi swasta serta Kuntilanak di bioskop, saya bahkan mengalami susah tidur selama beberapa hari. Sifat penakut saya ini yang akhirnya membuat saya menghindari menonton film horor di bioskop selama ini. Keemohan saya makin bertambah setelah menjamurnya film horor yang menampilkan wanita seksi berpakaian minim, karena sebagai seorang perempuan saya tidak akan mendukung film horor, atau film apapun, yang sebagian atau keseluruhan kontennya mengeksploitasi perempuan.

Lalu datang Rumah Dara. Sebuah film horor/thriller muncul menawarkan sesuatu yang berbeda di tengah sesaknya bioskop Indonesia oleh film ‘horor’ yang penuh dengan segala jenis hantu, setan, mahluk halus, siluman dan wanita berpakaian minim. The Mo Brothers (Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto) sebagai sutradara tidak ikut terhanyut dalam efek domino sineas Indonesia yang ramai-ramai mengulik segala macam jenis hantu, melainkan menciptakan horor versi mereka sendiri, yaitu horor yang datang dari sosok bernama Ibu Dara, serta ketiga anaknya: Adam, Arman dan Maya. Film yang merupakan lanjutan dari film pendek Dara (merupakan bagian dari antologi horor Takut) ini menampilkan teror yang tetap mampu membuat penonton tercekam dan mengkeret ketakutan di kursi bioskop dengan sajian darah, potongan tubuh, teriakan histeris para korban, serta raut wajah dingin Ibu Dara dan ketiga anaknya saat menghabisi korban. Tingkah Ibu Dara, Adam, Arman dan Maya seolah ingin menunjukkan bahwa horor tidak hanya ditemukan pada sosok mahluk halus penunggu tempat-tempat tertentu, melainkan juga ada pada sosok manusia.

Dari segi pemain, kredit tertinggi jelas patut diberikan pada Shareefa Daanish yang memerankan Ibu Dara. Dengan signature berupa gestur, tatapan mata yang tajam menusuk, tone suara berat, dan keramahan menjamu pengunjung rumahnya, tidak akan ada yang menyangka bahwa sosok Ibu Dara yang dari luar nampak keibuan ini dapat berubah menjadi seorang pembunuh berdarah dingin yang dapat menghabisi korbannya dengan raut datar seolah tindakannya merupakan kegiatan sehari-hari untuknya. Dan semua itu dimainkan Shareefa Daanish seolah-olah dia dan Ibu Dara adalah sosok yang sama dan tidak ada orang lain yang bisa memerankan Ibu Dara selain dia, menjadikan Ibu Dara sebagai sosok villain terbaik di film Indonesia yang pernah saya lihat! Saya juga salut dengan Arifin Putra yang dalam film ini membuang jauh-jauh image bintang film remaja yang ganteng dan digilai banyak ABG, karena dalam film ini ia telah bertransformasi menjadi mesin pembunuh bernama Adam! Saya nggak akan bercerita banyak tentang tingkah laku Adam di film ini karena hanya akan berujung ke spoiler, namun saya bisa mengatakan bahwa sosok Adam yang kalem cenderung misterius ini dipastikan akan membuat cewek manapun akan ketakutan kalau bertemu dengannya. Saya sempat membaca di sebuah majalah remaja bahwa sosok Adam dalam film ini akan sedikit mengingatkan penonton pada ‘hottie of the universe’ bernama Edward Cullen, namun setelah menyaksikan film ini saya mendapati bahwa Adam bahkan lebih maskulin dibandingkan Edward. Dua saudara Adam, Arman dan Maya juga ditampilkan dengan gaya masing-masing yang khas; Arman yang tidak pernah bicara dan raut wajah tanpa ekspresi (baca: tanpa perasaan) bahkan ketika tengah membantai korban di ‘ruang kerja’nya, sementara Maya yang persuasif, menggoda dan menimbulkan simpati, bisa seketika berubah menjadi pembunuh brutal yang mahir menggunakan pisau dan panah dan akan menyadarkan laki-laki manapun bahwa menggoda Maya adalah sebuah kesalahan besar.

Dari kubu protagonis? Tidak jauh beda. Julie Estelle sebagai Ladya dalam film ini seolah mengukuhkan dirinya sebagai spesialis pemeran perempuan tangguh seperti yang telah ia tunjukkan dalam trilogi Kuntilanak. Namun ketika tensi mulai menaik dan semua tokoh diharuskan memutar otak untuk keluar dari rumah Dara, sosok Ladya tidak lantas menjadi sosok ‘berusaha laki-laki’ ala sinetron yang mengatasi semua masalah sendirian dengan wajah yang cool dan muka tetap dicantik-cantikkan walaupun dari ujung kepala sampai ujung kaki berlumuran darah yang membanjiri rumah tersebut, melainkan tetap sebagai manusia yang bisa histeris, menangis dan membutuhkan sosok a shoulder to cry on di tengah kepanikannya. Ario Bayu memainkan karakter Adjie, kakak Ladya (walaupun sejujurnya saya sempat tertawa kecil dan bertanya-tanya, di mana miripnya Adjie dan Ladya?) menjadi sosok kakak yang kalem dan kebapakan, serta tetap berusaha ngemong ke Ladya walaupun hubungan mereka sudah lama memburuk dan ehm, sosok suami yang ganteng tentunya (oh well, nggak penting juga kali ya, hahaha). Sigi Wimala memainkan istri Adjie, Astrid, yang merupakan sosok ibu hamil paling malang yang pernah saya lihat. Bagaimana tidak, dalam kondisi hamil besar dan bahkan tengah menunggu waktu untuk melahirkan, ia terjebak di rumah berpenghuni empat orang gila yang salah satunya mengincar bayi dalam kandungannya dan saat berusaha kabur, ia justru mengalami hal paling tidak disangka-sangka oleh hampir semua orang yang ada di situ. Daniel Mananta, Mike Lucock dan Dendy Subangil masing-masing memerankan Jimmy, Alam dan Eko, tiga sahabat Adjie yang menjadi tim ‘hore’ dalam geng protagonis, bahkan di saat kritis sekalipun, tingkah mereka yang gedubrakan membuat saya tercabik antara ketakutan dan ingin tertawa. Khusus untuk Eko, interaksinya dengan Maya membuat saya semakin percaya bahwa kelemahan terbesar laki-laki terletak pada perempuan! Anyhow, walaupun keenam tokoh ini diperkenalkan secara singkat lewat dialog-dialog pendek di awal film, namun mereka dengan cepat mengundang simpati penonton saat harus berlarian menghindari Dara dan ketiga anaknya.

Rumah Dara yang sebelum ditayangkan di sini sudah melanglang buana ke berbagai festival film internasional ini dengan brilian menampilkan ‘paket komplet’ sebuah film horor: casting yang tepat, make-up realistis, scoring pembangun suasana yang membuat stres, dan plot cerita yang ringan namun tidak mengada-ada ataupun sok tahu. Cipratan darah di lantai, dinding, bahkan sampai ke lensa kamera, organ tubuh yang lepas, make-up babak belur berlumuran darah yang natural menjadi magnet sekaligus teror utama dalam film ini. Seolah belum cukup, scoring film ini menambah tingkat stres penonton, apalagi ketika lagu keroncong Cinta Matiku karya Zeke Khaseli mengalun syahdu namun membangkitkan bulu roma, sukses membuat penonton bertanya: kira-kira siapa lagi yang akan mati dan bagaimana matinya?

Di balik cipratan darah yang menggenangi Rumah Dara, film ini menawarkan sebuah cerita yang simple dan tidak menuntut penonton untuk berpikir terlalu berat. Dan film ini dengan cerdas dan tidak berbelit-belit mengungkapkan alasan mengapa Dara dan ketiga anaknya menawan Ladya dkk. di rumahnya serta berusaha membunuh mereka dengan cara sedemikian sadis, selain faktor bahwa Dara, Adam, Arman dan Maya adalah sosok-sosok psycho yang menganggap membunuh seseorang adalah sebuah hiburan tersendiri.

Walaupun memiliki banyak nilai plus, tentu film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Saya agak terganggu dengan adegan saat Ladya dkk. pertama kali bertemu Maya di tengah hujan. Sebenarnya kalau jeli, kita akan menemukan bahwa Maya pun ada di bar tempat Ladya bekerja saat Adjie, Astrid dan ketiga sahabat mereka singgah menjemput Ladya. Namun mengapa dari sekian banyak pengunjung bar, Maya memilih untuk menjerat sekumpulan sahabat ini sebagai mangsa? Yang agak mengganjal juga bagi saya adalah foto-foto Dara dan ketiga anaknya, serta tahun yang tertera di balik foto itu. Apa orang di foto dengan orang yang ada di film ini orang yang sama? Mungkinkah hal ini pertanda bahwa akan ada sekuel yang mungkin bisa menjelaskan tentang masalah foto ini? Ada juga beberapa hal lain yang agak aneh, seperti rompi bertuliskan POLISI yang dipakai salah satu anak buah Letnan Syarief. Attitude polisi yang kok sepertinya bisa-bisanya dikadalin oleh Dara dan ketiga anaknya. Adegan akhir yang sejujurnya agak klise untuk saya. Well, tapi dengan segala kekurangan dan kelebihan film ini, Rumah Dara sebagai film slasher pertama di Indonesia telah berhasil membawa sebuah angin segar bagi perfilman Indonesia, terutama di kancah film horor. Saya sebagai penikmat film berterimakasih pada The Mo Brothers yang telah membawakan sebuah film brilian yang sangat menghibur untuk Indonesia, sekaligus membangkitkan kembali optimisme bahwa di Indonesia masih ada film horor bertanggung jawab yang tidak melibatkan hantu dan sensualisme. Last but not least, semua pencinta film dan yang peduli terhadap perfilman Indonesia sangat disarankan untuk menyaksikan film ini, karena dijamin nggak akan nyesel! Sekedar tips dari saya kalau mau menonton film ini, pastikan bahwa Anda punya jantung yang benar-benar sehat dan kuat, serta mental sekeras baja. Jangan lupa untuk membawa air minum karena Anda pasti akan seret setelah berteriak-teriak sepanjang film, dan jangan membawa makanan ke dalam bioskop karena nggak akan dimakan, either karena keasyikan nonton atau justru karena mual. Terakhir, jangan lupa buang air kecil sebelum nonton karena saya membaca di Twitter @RumahDaraFilm, ada seorang penonton yang ngompol karena menahan pipis :)

Anyhow, selamat menikmati sajian horor sesungguhnya dari Rumah Dara!

P.S: setelah nulis postingan ini, saya ngasih link-nya ke Twitter @RumahDaraFilm, dan ternyata sama pengelola accountnya review ini dibaca dan di-retweet sambil memberi komentar mengenai review saya. Alhamdulillah review saya dibilang bagus. Makasih Mo Brothers dan RumahDaraFilm! :D
on Saturday, January 9, 2010
“Wuih hebat!” (senyum asem)
“Apa? Wah, tiap hari guten morgen dong!”
“Oh...” (muka datar)
“Mau kerja apa pas lulus?”
“Oh! Ich liebe dich ya?”

Itu reaksi orang-orang begitu saya memberitahu mereka jurusan apa yang saya ambil. Mungkin saya belum pernah cerita di postingan blog ini, kalau saya kuliah semester 5 (Februari ini masuk semester 6) di satu-satunya universitas yang menyandang nama negara ini. Dan jurusan yang saya ambil adalah sastra. Tepatnya sastra Jerman. Saya memilih jurusan ini sama sekali bukan karena asal tembak asal diterima di universitas tempat saya kuliah sekarang. Saya memutuskan memilih jurusan ini dengan segala resikonya (nggak punya modal bahasa Jerman sama sekali pas SMA) karena pertama, saya merasa bakat dan minat saya hanya ada di bahasa, dan kedua, saya punya mimpi menjadi jurnalis sepakbola yang someday bisa bertemu dan interview Michael Ballack, Juergen Klinsmann, Lotthar Matthaus atau even Franz Beckenbauer dan melakukan interview itu dengan bahasa Jerman! Singkat kata, dengan dua alasan tersebut, saya menjalani perkuliahan saya di sini dengan ikhlas dan siap dengan semua tugas-tugas, kuis, serta ujian.

Tapi ternyata, setelah saya 2, 5 tahun kuliah, di luar sana saya selalu saja bertemu dengan orang-orang yang bertanya ke saya di mana saya kuliah dan jurusan apa yang saya ambil. Lalu ketika saya menjawab pertanyaan mereka, respons mereka kebanyakan seperti yang saya cantumkan di awal postingan ini. Respons yang lama-lama membuat saya bertanya sendiri: apa ada yang salah dengan belajar sastra?

Saya tahu, mungkin dari nama, jurusan yang saya ambil terdengar ‘tidak menarik’. Sastra Jerman. Saya juga sangat sadar, banyak yang menganggap jurusan sastra atau bahasa tidak lebih dari jurusan kelas dua yang perkuliahannya mudah dan punya peluang besar untuk mendapatkan Indeks Prestasi tiga koma setiap semesternya. Saya juga tahu mereka bertanya-tanya, apa pekerjaan yang bisa didapatkan oleh seorang lulusan sastra? Saya juga tahu mereka menganggap jurusan ini di bawah jurusan seperti psikologi, HI, manajemen, akuntansi atau teknik. Saya bisa melihat anggapan itu dari mata mereka, walaupun mereka tidak mengatakan apapun pada saya. Dan seandainya mereka tahu bahwa saya ingin sekali membuka mata dan telinga mereka lebar-lebar bahwa kuliah sastra sama sekali jauh dari kata mudah. Sejujurnya saya juga bahkan tidak yakin, apakah orang yang mengambil jurusan-jurusan di atas tadi bisa mengikuti proses kuliah bahasa Jerman seperti yang sudah saya dan teman-teman saya lalui selama ini? Karena pengalaman saya selama 2, 5 tahun kuliah di sini telah membuktikan bahwa teori ‘survival of the fittest’ Darwin benar-benar berlaku, khususnya di jurusan saya.

Saya nggak bilang kalau orang-orang yang kuliah di jurusan psikologi, manajemen, HI, dll itu bodoh. Sama sekali tidak ada anggapan macam itu di kepala saya. Hanya saja saya ingin orang-orang yang memandang sebelah mata pada mahasiswa sastra, juga orang-orang yang mungkin tanpa sengaja membaca postingan blog ini mengerti bahwa jurusan sastra—seperti juga jurusan lain—bukanlah jurusan yang bisa dimasuki oleh sembarangan orang. Karena jurusan sastra punya tingkat kesulitan yang belum tentu bisa di-handle oleh semua orang. Orang yang tidak mampu bertahan, tidak mampu menyesuaikan diri dengan ‘medan tempur’ dipastikan akan segera gugur. Dan hanya orang-orang pilihan yang bisa menyelesaikan kuliahnya tepat waktu di jurusan sastra.

Dengan semua itu, apakah jurusan sastra masih pantas disebut jurusan kelas dua?
on Wednesday, December 23, 2009
Oke, jadi akhir-akhir ini rame pemberitaan mengenai Luna Maya yang mencaci maki wartawan infotainment di situs jejaring sosial Twitter. Caci makinya tergolong “seram” karena Luna mengatakan wartawan infotainment lebih rendah derajatnya dari pelacur dan pembunuh. Efek tweet Luna meluas; banyak yang bersimpati pada keadaan Luna, tak jarang yang menuding Luna sebagai pribadi yang dangkal karena mengeluarkan sumpah serapah di ruang publik macam Twitter. Luna menjawab reaksi itu dengan permintaan maaf dan pengumuman bahwa ia menutup account Twitternya. Luna dihadapkan pada sanksi pelanggaran UU ITE.

Kejadian ini bukan yang pertama atau yang baru terjadi. Dulu kita pernah melihat pistol ditembakkan ke udara dan asbak yang melayang akibat tekanan dari wartawan infotainment. Tapi bukan itu yang menjadi titik berat postingan saya, karena saya tidak berminat menggurui dengan segala macam analisis tentang bagaimana seorang artis seharusnya bersikap, seorang wartawan bersikap dan bagaimana interaksi antara artis dan wartawan harusnya terjadi. Postingan saya ingin memfokuskan diri saya pada akar semua permasalahan (atau lebih tepatkah bila disebut perseteruan?) antara Luna dan wartawan infotainment yang mewarnai layar televisi dan menghiasi koran yang kita baca belakangan ini. Di balik adanya tayangan infotainment dan sikap wartawan infotainment yang banyak dikatakan sebagai “memaksa”, ada suatu hal simpel yang luput dari ingatan kita. Akar semua ini adalah gosip. Gosip atau rumor atau desas-desus atau kabar angin dan segala macam sebutan lainnya.
Nggak usah dipungkiri, kata satu ini sudah menjadi makanan sehari-hari bukan cuma untuk artis macam Luna Maya namun juga di kalangan kita-kita ini yang “bukan siapa-siapa” (atau “belum jadi siapa-siapa”). Saya sering mendengar gosip mengenai teman-teman atau orang-orang terdekat saya, orang-orang yang tidak terlalu saya kenal, dan pendeknya siapapun, yang timbul entah karena tidak sengaja atau memang sengaja. Gosip itu kadang besar, kadang kecil, kadang menyebar, kadang tidak, kadang bertahan lama, kadang hanya sementara. Saya nggak akan persoalkan apa yang mendasari gosip bisa menyebar dan kenapa bisa menyebar. Karena saya punya gugatan lain yang lebih daripada itu semua. Yang selama ini saya pertanyakan hanyalah, mengapa pihak-pihak yang secara sengaja atau tidak membantu tersebarnya gosip itu tidak merasa perlu untuk memikirkan perlunya sebuah penegasan, apa fakta sebenarnya sesuai dengan yang mereka ketahui? Apa mereka benar-benar mengetahui hal yang sebenarnya, atau jangan-jangan mereka hanya mendengar selentingan yang dengan leluasa mereka kembangkan sesuka hati? Dan saat objek (baca: orang) yang menjadi bahan gunjingan mendengar dan menggugat, apa mereka tidak pernah merasakan malu karena menyebarkan berita penuh kebohongan yang bedanya tipis sekali dengan fitnah? Dan mengapa saat objek yang bersangkutan menggugat, mereka tanpa malu balik menuding si objek mencari kambing hitam atau mengelak dari tuduhan yang jelas-jelas sebuah kesalahan atau malah balik marah? Self defense-kah? Usaha untuk menutup rasa malu-kah?

Poin terakhir ini saya tangkap betul dari kasus Luna. Luna menggugat tingkah wartawan infotainment dengan tweetnya. Saya tidak akan bilang bahwa apa yang dikatakan Luna adalah hal yang baik, tweetnya pun tidak bisa dikatakan sebagai tweet yang manis. Tapi saya yakin Luna tidak akan meledak tanpa picu yang sepadan. Salahkah jika Luna atau korban-korban gosip murahan itu meledak? Salahkah jika mereka menunjukkan sisi manusianya dengan berhenti menutup mata dan telinga, dan melawan dengan berteriak lantang bahwa mereka tidak terima atas pemberitaan yang tidak masuk akal dan melanggar batas privasi mereka sebagai seorang individu?
Sementara apa yang dilakukan wartawan infotainment, saya mengerti betul profesi mereka yang menuntut untuk mencari berita terbaru, walau saya tidak bisa berkata setuju dengan cara mereka yang terkadang membuat narasumbernya kurang nyaman. Kalaupun ada hal positif yang bisa saya tangkap dari wartawan infotainment ini—terlepas dari bagaimana mereka menyajikan beritanya nanti—adalah mereka masih memiliki inisiatif untuk bertanya pada orang yang tengah mereka bicarakan. Bagi saya mereka lebih patut diberi kredit dibandingkan orang-orang yang tanpa malu menyebar desas-desus tanpa berani mengkonfirmasi dan/atau mempertanggungjawabkan isi omongan mereka pada objek yang mereka bicarakan dan malah menuding balik saat si objek berteriak lantang menggugat. Sampah.
on Friday, November 20, 2009
Gue pernah liat ungkapan ini di status Facebook seseorang dan jujur aja, membaca ungkapan ini membuat gue jadi tertawa kecil. Ga kebayang aja gimana rasanya pengen jadi yang terbaik buat semua orang, yang bikin semua orang senang. Maksud gue, oh, c’mon! Apa nggak capek berusaha jadi yang terbaik untuk orang lain tanpa merhatiin perasaan lo sendiri, apa lo senang atau nggak ngelakuinnya?

Gue nggak kebayang aja kalo suatu saat orang ini (yang menulis status ini) ada dalam situasi dia harus memilih. Misalnya, dia harus memilih, let’s say, nemenin orangtuanya yang lagi sakit, atau nemenin pacarnya. Kalau dia mau jadi yang terbaik buat kedua-duanya, berarti dia harus bikin senang dua-duanya kan? Kalau dia mau jadi yang terbaik untuk orangtuanya, dia harus nemenin orangtuanya. Tapi kalau dia mau jadi yang terbaik buat pacarnya, dia harus ikut pacarnya. Terlepas dari apakah orangtuanya atau pacarnya pengertian atau nggak, gue yakin pastilah orang ini akan makan hati sendiri karena nggak bisa menjadi ‘the best for all'
Kalau buat gue, kita nggak perlu jadi orang yang terbaik buat semua orang. Call me pessimist, but I do think that it’s impossible. And yet, kalo lo berusaha jadi yang terbaik buat semua orang, selalu berusaha nyenengin orang, well, I guess it’ll lead you to NOT being you, yang artinya lo bikin diri lo jadi orang lain alias kepribadian yang palsu. Yang harus kita lakukan (mengutip notes dari seorang calon praktisi NLP terkenal, amiiiin), ambillah keputusan yang terbaik untuk saat itu. Yah, walaupun belum tentu keputusan yang terbaik itu menyenangkan untuk semua orang. Dan yang lebih penting adalah, jadi diri sendiri itu lebih menyenangkan daripada jadi orang yang ‘palsu’ supaya disenengin semua orang...
on Saturday, October 31, 2009
Sumpah ya, gue nggak tahu apa kalian juga menemukan orang-orang seperti ini di friendslist Facebook kalian. Tapi kalian pasti tau, selain alay-alay yang menulis status dengan huruf gede-kecil dan angka serta ejaan rekiplik, masih ada orang-orang yang sebenernya nggak kalah menggelikannya, yaitu:

- Orang yang suka nge-LIKE status sendiri. Oke, sebenernya nggak ada yang salah dengan nge-like status sendiri dengan catatan statusnya itu emang bagus dan catchy. Yang bikin kening gue berkerut adalah kalo status yang di-LIKE sebenernya ga penting-penting banget. Kayak: “Gue pengen salad nih, beliin dong!” atau “Hmmmmpfh…” (apaan sih ini, ga penting banget?)

-Orang yang sok berbahasa Inggris, padahal masih celemotan. Wets, jangan salah menilai dulu ya. Gue juga sering nulis status pake bahasa Inggris dan bahasa Inggris gue pun belum sempurna. Tapi orang-orang yang gue kategorikan dalam poin ini adalah orang-orang yang sok nulis status pake bahasa Inggris dengan struktur yang diragukan kebenarannya, serta ejaan yang salah! Boleh percaya boleh nggak, gue pernah nemuin orang yang nulis begini: “I’m getting crazzy because of you” atau “I wanna enjoy my live” atau “XXX *nama si username* is feels sad” atau “I fell the happiness”. Bahkan gue pernah iseng-iseng liat note temen SMA gue, judulnya “Frist Love”. Untung aja gue masih bisa bertahan, kalo nggak bisa-bisa gue udah kejang-kejang.

-Orang dengan username aneh-aneh kaya zaman Friendster. Contohnya -Anii Gembook Cintaa-, -Ekaa Calon Nerakaa-, -Abenk Jga Agnie Kuqh-, Devita Ngek Ngok, Saiia Annchiaa serta beragam nama lain yang bikin orang diare.

Dan yang lebih lucu adalah, ada aja orang-orang yang biar dibilang eksis dan punya banyak temen, mau-maunya approve orang-orang semacam ini di Facebooknya. Sementara gue setelah menahan diri, akhirnya mengeraskan hati gue (lebay) untuk meremove orang-orang ini dari Facebook gue walaupun gue kenal sama orang-orang ini...

Pffft… tolong saya Tuhan…
on Sunday, August 2, 2009
Gue selalu suka naik angkot. Alasan pertama adalah karena gue sampe sekarang nggak bisa nyetir. Yang kedua, gue bisa ketemu orang-orang dan mengamati perilaku masing-masing (dengan catatan, gue lagi nggak ngantuk ya). Yah, walaupun naik angkot memang butuh kewaspadaan ekstra mengingat cukup banyak tukang sumpit mencari mangsa di sini. Dan hari Sabtu tanggal 1 Agustus, sekitar pukul 3, terjadilah kisah ini...

Pulang les TOEFL di LBI FIB UI, gue pulang naik angkot. Seperti biasa, dari kampus gue naik 112, lalu turun di Jalan Baru (padahal mah, ini jalan udah lama ada!) dan di situ naik angkot 121 yang memang banyak mangkal di situ karena males nunggu penumpang di terminal. Tanpa pretensi apapun, gue naik angkot yang mangkal paling depan, deket tukang minuman. Di dalem angkot sih udah ada beberapa penumpang. Namun yang paling eye-catching adalah sepasang manusia yang duduk di belakang supir. Sepasang manusia ini, gue bisa menebak kalau mereka lebih tua dari gue, jadi kita sebut saja mereka dengan mas dan mbak. Nah, gesture mas dan mbak ini amat memperlihatkan kalau mereka sedang dimabuk asmara, terlihat dari posisi duduk yang saling berdempet dan tangan si mbak yang bertumpu di tangan sang mas, serta senyum bahagia yang terus-menerus menggelayuti wajah mereka berdua. Lalu terdengarlah percakapan ini:

Mbak: Jadi kamu umurnya berapa sih? (nada manja)
Mas: Ehm... berapa ya? (sok-sok misterius)
Mbak: Iiih... udah kakek-kakek ya kamu? hihihi... (tertawa manja)

Si mbak memukul mesra mas

Mas: Hmm.. kalo lahir tahun 76 tuh berapa sekarang? Eh 76 apa 79 ya?
Mbak: Iiih... (mencubit-cubit gemas sang mas)

dan seterusnya.

Percakapan mesra, penuh tawa dan canda yang kadang diselingi belaian sayang sang mas yang didaratkan ke rambut berombak si mbak, atau tangan si mbak yang mengelus-elus mesra pipi sang mas (yang ngomong-ngomong berkumis lebat), serta obrolan dengan suara perlahan penuh rahasia antara dua insan yang yang tengah dimabuk cinta ini berlanjut terus sampai angkot penuh dan mulai jalan. Tidak jarang mereka tertawa lepas dan suara mereka memenuhi angkot. Saking asyiknya, gue dan seluruh penumpang lain dianggap tidak pernah ada. Mereka bermesraan di angkot itu, seolah-olah angkot tersebut adalah mobil pengantin dan merekalah mempelai berbahagia (FYI, gue tahu mereka belom nikah karena di jari mereka nggak ada cincin sama sekali). Gue yang duduk berhadapan dengan mereka sebenarnya udah nyaris gagal menahan tawa dan hanya bisa menyalurkan rasa geli gue lewat status Facebook gue. Untunglah saat itu gue membawa majalah HAI dan Donal Bebek, sehingga untuk menghindari kecurigaan gue tengah mentertawakan pasangan bahagia ini (atau kecurigaan gue adalah pasien RSJ yang kabur, berhubung mbak-mbak baju ungu yang duduk di bangku kecil dekat pintu sempat melirik gue penuh rasa heran) gue membaca sebuah artikel di majalah HAI dan tersenyum-senyum, seolah-olah sedang membaca artikel yang lucu.

Sementara sang mas dan si mbak pun terus bermesraan.....

-lariza oky adisty-


Jadi begini ceritanya. Gw nulis note ini jam 00:40, tgl 1 Agustus 2009, sambil nonton acara di sebuah stasiun TV yg namanya Take Me Out. Silakan ketawa,tapi sumpah gw nonton ni acara karena gw insomnia dan menunggu kantuk datang. Anyway, di episode kali ini ada bintang tamu sebuah grup band yg personelnya cewek semua,membawakan sebuah lagu hits mereka (kali ini jujur,selain ga mau nyebut merek,gw lupa apa nama bandnya!). Inti lagu ini adalah cinta itu jangan buru-buru,krn masih ada banyak waktu yg diperlukan untuk saling pendekatan.

Dan inilah yg membuat gw geli. Inti acara ini (terlepas dari pertanyaan standar: "ini beneran gak ya?") kan adalah proses kenalan yg mengandalkan first impression antara satu pria lajang dan beberapa wanita cantik kemudian berlanjut oleh ngobrol2 dan date2 yg terus dipantau oleh tim acara ini yg intinya ingin melahirkan pasangan baru secara instan.. Dan lagu yg ditampilkan berisi kalo cinta jangan buru-buru. For some reason gw ngerasa lagu yang ditampilkan nggak nyambung dengan konsep acara. Sebuah acara TV seharusnya memiliki unsur-unsur yang mendukung konsep acara itu sendiri, mulai dari host, peserta sampai bintang tamu. Dengan kata lain, kalo acara itu bertujuan untuk menyatukan pria dan wanita secara instan, pilihlah bintang tamu yang memiliki lagu-lagu yang isinya berisi hal-hal yg sesuai dengan tujuan acara itu. Lha, kalo lagu yang ditampilin aja isinya bertentangan sama konsep acara, apa nggak aneh ya?

-lariza oky adisty-

(Mahasiswi, tukang kritik akut)
on Sunday, July 26, 2009
Pernah dengar ungkapan yang gue pilih sebagai title ini? Gue baru bener-bener ngeh dengan ungkapan ini saat membaca sebuah novel Indonesia. Damn, jujur ya, gue merasa 'terganggu' sekali dgn ungkapan ini. Jujur, kalo gue mendengar orang mengatakan ini, secara tidak langsung ia ingin mengatakan bahwa ia 'pengecut', tidak berani menghadapi reaksi yang akan muncul atas perkataannya. Yup, banyak sekali orang yang menolak berbicara kebenaran dgn dalih 'tidak ingin menyakiti siapa-siapa dengan perkataannya'. Well,hey, ini hidup. Nggak usah mencemaskan hal yang memang bisa terjadi dalam hidup. Adam Levine dalam lagunya She Will be Loved bilang "It's not always rainbows and butterflies, it's compromise, it moves us along". Intinya hidup ya memang begitu, kadang menyakitkan. Dan coba jelaskan ke gue, bagaimana seseorang bisa begitu yakinnya bahwa perkataannya akan menyakitkan orang lain. Nobody won't know until the sentence is said. Lagipula reaksi apapun yang muncul sangat bergantung dari kondisi si pendengar saat menyerap informasi yang muncul. Dan nggak ada seorang pun yang berhak menyalahkan kita untuk menyampaikan kebenaran. sepahit-pahitnya kebenaran, akan lebih manis pada akhirnya dibanding kebohongan yang awalnya manis, namun makin lama baunya seperti bau bangkai yang akhirnya tercium juga....
(ini gw re-post dari note Facebook gw)

Saya benar-benar kehabisan akal untuk mengungkapkan betapa tidak bermutunya acara TV di Indonesia saat ini. Selama liburan, saya memperhatikan dari pagi sampai pagi lagi di semua stasiun TV yang ditangkap oleh antena TV rumah saya dan saya hanya bisa menghela nafas mengetahui semakin sedikitnya acara TV yang bermanfaat bagi penonton di rumah dan mau tidak mau saya menangkap kesan bahwa pengelola stasiun TV sekarang hanya membuat acara berdasarkan alasan ‘to entertain’ (menghibur) dibandingkan ‘to educate’ (mendidik).Acara TV pagi didominasi oleh acara musik yang menampilkan chart lagu Indonesia, dipandu oleh host artis yang mencekoki penonton dengan obrolan sok pintar yang tidak bermutu, bintang tamu band ‘antah-berantah’ (saya tidak menyalahkan mereka, karena selama masih ada yang menyukai musik mereka, mereka akan tetap ada) yang sayangnya hanya memenuhi khasanah musik tanah air secara kuantitas bukan kualitas, menyanyikan (tak jarang mereka lipsync) hits-hits yang temanya tidak jauh dari cinta, air mata, patah hati dan perselingkuhan. Tayangan ini dimeriahkan pula oleh penonton-penonton dengan dandanan ‘ala masa kini’ meliputi legging warna-warni, kacamata besar dengan frame warna-warni pula, bergerak seirama mengikuti musik, bahkan ikut bernyanyi bersama sang bintang tamu. ‘Hebatnya’, acara ini tidak hanya terdapat di satu stasiun TV, melainkan di kurang lebih 3 stasiun TV dan ditayangkan pada waktu yang nyaris bersamaan dengan pola yang sama. Menjelang santap siang hingga sore, layar TV saya didominasi oleh jenis tayangan yang menurut saya adalah kesalahan terbesar dalam industri media: infotainment. Acara-acara semacam ini mayoritas dipandu oleh host wanita berdandan anggun namun dengan siap siaga memasang wajah penuh gosip, seolah berkhayal sebagai orang paling tahu segalanya di dunia. Dengan dalih ‘memberikan informasi seputar dunia selebritis’ ditayangkanlah sejumlah berita mengenai pesohor—beberapa di antaranya bahkan saya tidak tahu kalau mereka itu artis—dengan persentase kebenaran yang hanya Tuhan yang tahu. Agar lebih seru, tak jarang tayangan-tayangan ini dibumbui oleh narasi-narasi provokatif yang dibawakan dengan gaya deklamasi oleh narator bersuara mistis. Dengan narasi seperti ini, tak urung penonton dibawa hanyut dalam asumsi dan dugaan-dugaan. Seperti: “Benarkah aktor A akan membawa aktris B ke pelaminan akhir tahun ini, tanpa mempertimbangkan usia aktris B yang masih 18 tahun?” Atau “Mungkinkah hubungan penyanyi A dengan kekasihnya, wanita C hanya sebagai penawar rasa sedih penyanyi A setelah cintanya pada aktris film D kandas di tengah jalan?” atau “Apakah benar, bahwa vokalis band X sengaja mencari perkara pada sang istri, G untuk berpisah dan bisa kembali ke pelukan sang kekasih lamanya, model kondang Y?” serta sejumlah pertanyaan lain yang ketika dikonfirmasi pada orang yang bersangkutan hanya dijawab seadanya dengan nada kesal (siapapun akan kesal jika ditanya seperti itu), lalu disimpulkan secara sepihak oleh reporter dan penulis naskah dan disiarkan ke penonton sebagai suatu kebenaran. Dan tanpa sadar, kita pun dicekoki oleh kebohongan mengenai orang-orang yang tidak kita kenal, setiap hari. Dan ‘bencana’ sesungguhnya dimulai ketika malam. ‘Bencana’ itu bernama sinetron. Tayangan penuh konflik yang menjual mimpi, menunjukkan kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin yang menebarkan sindrom Cinderella akut serta mempertontonkan kekerasan dalam bentuk verbal maupun fisik. Belum lagi dengan jalan cerita yang seringnya tidak masuk akal, ayah tokoh si A ternyata dulu menikah dengan ibu si tokoh B, lalu ternyata si tokoh B adalah anak dari si C yang tak lain adalah ayah dari si D yang menginginkan cinta si tokoh A, lalu ternyata si D juga adalah anak adopsi dan ibu kandungnya adalah si E yang ternyata adalah ibu kandung si B dan si E pernah menikah dengan F yang bermusuhan dengan ayah si tokoh A, dan seterusnya. Belum lagi adegan-adegan di sekolah (baik SD, SMP, SMA) atau kampus yang bagi saya sama sekali tidak mirip dengan sekolah dan kampus di dunia nyata, juga dandanan siswa/siswi yang terlampau menor dengan aksesoris macam kalung dog tag, rambut gaya polem (yang saya tahu ini pasti dilarang di sekolah betulan) bagi para siswa, juga rok yang terlampau pendek, make-up yang lebih cocok dipakai ke pesta dibanding ke sekolah, aksesoris yang membuat saya berpikir apa jangan-jangan tokoh ini ke sekolah untuk berjualan aksesoris saja (khusus siswi), serta gesture, tingkah laku dan ucapan yang tidak mencerminkan anak sekolah, serta adegan bullying di sekolah serta tokoh guru yang hanya berkesan tempelan dan tidak memiliki wibawa. Adegan ber-setting kampus pun tak kalah parahnya. Entah kampus mana di dunia nyata yang mengizinkan mahasiswinya mengenakan tanktop atau mini skirt ke kampus. Dan adegan kekerasannya… ya ampun. Alangkah tidak pantasnya adegan tampar-menampar, bentak-membentak, caci-maki dengan kata-kata kasar itu dipertontonkan di TV di jam-jam yang masih banyak anak kecil menonton tayangan ini. Belum lagi si korban biasanya hanya mampu menangis dan tidak mampu melawan. Malah ada satu sinetron yang belum ditayangkan sama sekali, namun iklannya sudah mempertunjukkan begitu banyak kekerasan (teman-teman pasti tahu sinetron apa yang saya maksud) dan iklan itu ditayangkan 24 hours a day, 7 days a week, ditonton oleh semua orang, termasuk anak kecil. Kalau setiap hari kita dicekoki tayangan seperti ini, kapan bangsa ini bisa dewasa?